Kisah Inspiratif
Angin hembusan malam ini cukup kencang,jika terlalu lama berada di sini tubuhku sepertinya tidak akan kuat menahannya.sudah lebih dari 2 jam aku menunggu ojek namun sepertinya malam ini tak ada ojek yang sedang berkeliaran,Maklumlah jarum jam sudah menunjukkan jam 22.40.Kerja lembur membuatku mengantuk dan aku tak bisa membawa kendaraan sendiri.bukan tidak bisa, hanya saja aku trauma saat kejadian lalu terulang kembali kepadaku.
Suara kendaraan berbunyi secara bergantian memaksa kendaraan lain untuk bergerak saat lampu hijau menyala.Perjual kaki lima yang berada di depanku berbenah untuk pulang,melangkah pergi seraya tersenyum ke arahku dengan kepala sedikit menunduk,tanda menyapa.
Aku harus segera bergegas pulang karna keadaan makin sepi saja,hanya kendaraan yang berlalu lalang kesana kemari.
Tiba-tiba saja di kejauhan terlihat seorang laki-laki paruh baya mengayuh Becaknya,ia terlihat sangat lesu mungkin karna tak ada penumpang.usia yang tak lagi muda memaksanya untuk mendorong becak saat jalan menanjak.
Daripada harus menunggu Ojek yang tak kunjung datang,lebih baik aku naik becak saja lagi pula jaraknya tidak terlalu juah dari rumah.
Segeralah aku panggil tukang becak itu karna berbelok ke sebuah gang.
“Becak,Pak!” teriakku di ujung jalan.
“iya,Neng tunggu” jawabnya senang lalu memutar balik ke arahku.
Tukang becak itu menghampiriku ia tampak gelisah dan bertanya,
“Mau kemana,Neng?” Tanya dia.
“ke jalan Darma No 14,bapak bisa antar saya?” aku berbalik bertanya melihat raut mukanya yang gelisah namun di tutupi.
“Bisa Neng bisa,tapi saya masih mau ke rumah dulu nganterin obat buat anak saya,kalo gak segera di minum takut tambah parah sakitnya,rumah saya deket sini” ucap Bapak itu memelas.
“oh yaudah gak papa”jawabku mengangguk.
Sampai di rumah bapak itu,aku tak melihat seperti rumah!ini seperti gubuk yang tak layak huni.tukang becak itu tinggal disini? Bagaimana mungkin?
"tunggu ya,neng.saya mau ngasih obat ini dulu”ucap Bapak itu dan berlari ke dalam rumah dengan terburu-buru.
Ini rumah apa tempat sampah sih? Kotor banget. Gumamku dalam hati saat melihat sekeliling rumah Bapak ini.
Tak lama kemudian Tukang becak itu keluar dari dalam rumah dengan tergesa-gesa.
“maaf ya,saya kelamaan” ucap bapak itu merasa bersalah.
Aku hanya mengangguk tak mampu berbicara banyak karna badanku sudah terasa pegal,ingin rasanya merebahkan diri ke pulau kapuk dengan selimuti kain.
Tiba di rumah,aku menjulurkan uang Rp 20.000 Kepada bapak Tukang becak ini.
"ada uang kecil?saya gak punya kembalian” ucap bapak itu dengan mata berbinar.
“Gakpapa,Bapak ambil aja” jawabku dengan wajah tersenyum.
"jangan Neng,ini kebanyakan” jawabnya.
“ambil aja,pak. Saya ikhlas kok” sebenarnya di dompetku ada uang receh 10000 dan 5000,tapi aku kasihan melihat bapak ini apalagi setelah melihat kondisi rumahnya.
“Tapi...” ucapnya lagi mencoba untuk menolak namun berhasil aku tahan.
“Bapak terima aja ya,saya beneran ikhlas” suaraku lirih dengan wajah kaku agar ia bisa menerima uang dariku ini.
“Terimakasih banyak,semoga di limpahkan pahalanya” jawabnya dengan tersenyum dan membelokkan becaknya kemudian pergi.
Keesokan harinya saat jam pulang kampus,perutku tiba-tiba berdering dan ini tandanya harus ada makanan masuk. aku segera membeli batagor,namun banyak sekali pembeli sehingga aku harus mengantri.
Dalam panjang antrian yang lumayan lama itu,aku melihat sekeliling terlihat dari kejauhan seorang laki-laki berjalan ke arahku.Aku kira itu adalah orang gila karna di lihat dari pakaiannya memang dapat di simpulkan orang gila namun di lihat lebih lama lagi dan aku baru sadar bahwa dia bukanlah orang Gila,dugaanku salah.
Dia berjalan sangat lamban dan membawa sesuatu di punggungnya semacam karung,dan mungkin isi karung itu yang membuatnya berjalan lamban dan menunduk.sepertinya sangat berat isi karung itu. Makin dekat semakin terlihat jika itu adalah seorang laki-laki paruh baya yang sedang menggendong karung lebih tepatnya dia adalah pemulung.wajah pemulung ini bagiku tak asing lagi,seperti bapak tukang becak yang mengantarkanku pulang tadi malam.
Aku mendekatinya dan memastikan yang ku lihat tentang pemulung ini adalah bapak tukang becak yang aku kenal dan ternyata tebakan ku tidak meleset.
“Bapak?bapak tukang becak yang nganterin saya pulang tadi malam itu kan?” Tanyaku mencoba mengenali wajahnya.
“iya neng,ada apa ya?” jawabnya santai sembari mengais sampah dan tentunya aku mengikuti di sampingnya.
“loh becak bapak kemana?”ucapku kembali bertanya.
"ada di sana” jawabnya seraya menunjuk ke sebuah pinggir jalan.
“saya duluan ya,neng”ucapnya lagi dan menjauhiku.
Aku benar-benar penasaran dengan kehidupan bapak ini.karna hari ini sudah jam pulang maka aku memutuskan untuk pulang saja tanpa membeli batagor yang ramai dengan pembeli dan mengharuskanku untuk mengantri.
“pak becak pak” teriakku saat Mengetahui tukang becak itu mengayuh sepedanya.
Lebih baik aku naik becak saja karna lebih santai dan bebas polusi di banding angkutan umum yang harus berdesakan dengan keramaian,lagipula aku ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang bapak tukang becak ini.
Di perjalanan....
“maaf neng,saya mau ke rumah dulu karna masih narok botol-botol ini” ucapnya sambil mengayuh becaknya.
“iya pak”jawabku singkat memang ini yang aku mau,mengunjungi rumah bapak ini dan mengetahui kehidupannya.
Tiba di rumahnya,ada seorang anak kecil kira-kira berumur 9 tahun dia memakai tongkat dan tertatih-tatih saat berjalan.mengetahui anak itu keluar,tukang becak ini terheran kaget.
“kamu kenapa keluar kamar?keadaanmu sedang tidak baik” ucapnya khawatir.
“aku lapar,aku mau makan”jawabnya polos.
Segera mungkin bapak ini berlari ke becaknya dan membawa sebungkus nasi untuk anak itu, dengan patuhnya anak itu kembali masuk ke rumah dengan tongkatnya.
Dalam perjalanan pulang ke rumahku,bapak ini bercerita kehidupannya. Kehidupan yang sangat pahit ia rasakan,cobaan yang datang silih berganti setelah kecelakaan anaknya yang lumpuh dan istrinya meminta cerai karna tidak mau mempunyai anak cacat.
Bapak ini harus menghidupkan anaknya dengan cara yang ia bisa dan tentunya halal.
“apa saja,yang penting dapat uang dan anak saya senang” jawabnya saat aku bertanya perkerjaan bapak ini.
Tidak ada yang ingin ada di posisi ini,tapi takdir mengharuskan untuk menerimanya.percayalah selalu ada jalan di setiap cobaan.
Komentar
Posting Komentar